Yayasan Pondok Hayat adalah yayasan sosial nirlaba yang resmi berdiri sejak 20 juni 1998 di Surabaya dan terdaftar di Kementerian Hukum & HAM, Kementerian Agama dan Kementerian Sosial. Yayasan ini merupakan lembaga pelayanan Kristen interdenominasi yang mandiri (tidak berada di bawah organisasi gereja tertentu) dengan pelayanan utama sebagai rumah singgah untuk wanita hamil di luar nikah batal aborsi, sedangan tujuan utama yayasan Pondok Hayat adalah melindungi hidup manusia sejak pembuahan atau konsepsi sampai kematian yang wajar. Dengan pelayanan dan tujuan tersebut, Yayasan Pondok Hayat memiliki visi dan misi, yaitu :

Visi        : Keselamatan ibu dan anak dari ancaman kematian karena aborsi dan kembali pada tujuan Ilahi secara menyeluruh tubuh, jiwa dan roh oleh kuasa dan anugerah Tuhan.

Misi       : 1. Menghentikan pembunuhan; Membangkitkan kesadaran masyarakat akan bahaya aborsi dan permasalahan pembunuhan lewat aborsi.

                 2. Melayani; Melaksanakan pelayanan terpadu untuk pencegahan aborsi dan pemulihan para wanita korban pelecehan seksual dan hamil di luar nikah.

                 3. Menjadi agen kehidupan; Melakukan gerakan membela kehidupan sejak pembuahan.

Latar Belakang Yayasan Pondok Hayat

Latar Belakang Berdirinya Pondok Hayat

Latar belakang didirikannya Yayasan Pondok Hayat adalah sebagai berikut: adanya penemuan 12 mayat bayi korban aborsi di Jakarta Utara dan 20 mayat bayi lainnya di dua tempat di Jakarta Pusat pada akhir tahun 1997. Selanjutnya dengan pengakuan yang menghebohkan dari salah seorang dokter pelaku aborsi di Surabaya yang telah melakukan praktik penguguran kandungan beratus-ratus kali, menggemparkan masyarakat Indonesia pada umumnya dan Surabaya pada khsusnya.Kenyataan ini telah mengerakkan sekelompok anak Tuhan untuk mengambil langkah-langkah tertentu, yaitu mengadakan doa khusus, pergumulan seta kerja sama antar denominasi dari berbagai gereja untuk mengadakan seminar sehari dengan tema “Aborsi, Bagaimana Sikap Kita?”   yang diadakan di Heritage Club – Surabaya pada tanggal 7 April 1999, dengan pembicara : DR. Paul Gunadi, Dr. Sunaryadi Setiawan, Sp.OG, Dr. P. Y. Kusuma, Sp.OG dan Pdt. Yusuf B. S.

Seminar sehari tersebut dihadiri oleh para pemimpin jemaat, pendidik dan paramedis. Kegiatan ini awalnya diharapkan akan diikuti oleh 300 orang, ternyata diikuti oleh 600 orang, telah membahas tuntas masalah seputar aborsi, baik secara media, psikologis maupun teologis. Sejak awal panitia telah menduga  bahwa ini suatu pekerjaan besar dan akan menjadi suatu gerakan yang akan terus bergulir.

Tindak lanjut dari seminar tersebut adalah munculnya kesadaran yang besar untuk mencegah aborsi. Karena itu, pembentukan lembaga pro-kehidupan ini tidak dapat ditunda lagi sehingga lahirlah pelayanan”pro-life” dengan nama “Yayasan Pondok Hayat” yang didirikan berdasarkan Akta Notaris di Surabaya No. 5, tanggal 7 Desember 1998 dan disahkan oleh Panitera Pengadilan Negeri Surabaya di bawah No. 52/1999.

Berikut adalah susunan kepengurusan Yayasan Pondok Hayat pada awal berdiri:

  • Pembina              : Ir. Aditiadjaja, MA.
  • Pengawas            : Drs. Ec. Stephanis Widjaja
  • Ketua                  : Ir. Monica N. Surjani, M.Th.
  • Sekretaris 1         : Liana Christanty
  • Sekretaris 2         : Julia Tampi, S.E., M.M.
  • Bendahara          : Ir. Lanny Pudjianto, D.Th.
  • Koordinator Kesehatan Ibu        : dr. Sunaryadi Setiawan, Sp.OG.
  • Koordinator Kesehatan Anak     : dr. Paulus Hamzah, Sp.A.
  • Koordinator Konseling                : Diana Meita Zain, S.E., M.A.
  • Koordinator Survey                    : Pieter Pitojo  dan Susilo H.P

Pelayanan Pondok Hayat

Pelayanan anti-aborsi yang dilakukan Yayasan Pondok Hayat dilakukan dengan tiga tindakan utama, yaitu: tindakan pencegahan, rehabilitas dan edukasi. Tiga tindakan utama tersebut diimplementasikan dalam berbagai macam pelayanan: (1) Program Penyuluhan dan Seminar; (2) Program Rumah Singgah Ibu dan Bayi Batal Aborsi; (3) Kegiatan Pelayanan Sosial, (4) Rumah Anak.

1. Pelayanan Penyuluhan dan Seminar

Pelayanan penyuluhan dan seminar dilaksanakan di gereja-gereja, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok persekutuan, rumah sakit maupun klub-klub sosial. Penyuluhan dan seminar dilaksanakan tidak hanya di Surabaya, namun menjangkau kota-kota lain. Ada dua tujuan dari program penyuluhan dan seminar yang dilaksanakan, yaitu:

  1. Membangkitkan kewaspadaan dan kesadaran mengenai permasalahan aborsi, seks pra-nikah, pemulihan keluarga.
  2. Melahirkan gerakan pecinta kehidupan di kota-kota lain.

Program penyuluhan dan seminar dilaksanakan di kota Surabaya, Malang, Kediri, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, Lampung, Medan, Palangkaraya, Bontang, Palu, Manado, Denpasar dan Kupang. Penyuluhan dan seminar tersebut membawa dampak munculnya gerakan-gerakan pro-life di berbagai kota. Gerakan pro-life atau gerakan pencinta kehidupan di kota Denpasar muncul dengan nama “Graha Kasih”, kemudian menyusul “Selamatkan Generasi” di kota Medan, “Bale Kahuripan” di Bandung dan Jakarta. Program penyuluhan dan seminar tersebut juga berdampak diselamatkannya bayi-bayi yang sedianya akan diaborsi namun akhirnya sang ibu berubah pendapat dan mau melahirkan anak dengan baik.

  • Program Rumah Singgah Ibu dan Bayi Batal Aborsi

“Rumah Singgah Ibu dan Bayi Batal Aborsi” merupakan suatu tindak lanjut dari hasil penyuluhan yang dilakukan oleh Pelayanan Pondak Hayat. Rumah singgah tersebut menjadi tempat perlindungan bagi para calon ibu untuk sementara waktu sampai saat mereka melahirkan.

Pelayanan di rumah singgah dilakukan menyeluruh, mencakup pelayanan jasmani, rohani dan mental. Pelayanan menyeluruh atau holistik dan berkesinambungan terhadap pasien batal aborsi dilakukan oleh para pengerja Pondok Hayat. Hasil yang diharapkan adalah pemulihan secara menyeluruh dari pasien (= ibu batal aborsi). Pelayanan dilakukan sedemikian rupa agar para pasien siap untuk kembali ke tengah masyarakat. Seringkali pelayanan dilakukan juga kepada keluarga pasien. Terdapat anggota-anggota keluarga yang melakukan penolakan terhadap pasien maupun bayinya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tentu saja berbeda untuk setiap kasus, namun pada dasarnya meliputi pengampunan, pendamaian dan penerimaan kembali.

Secara fisik, Rumah Singgah Pondok Hayat (untuk selanjutnya disebut RSPH) adalah sebuah gedung berlantai dua, berdiri di atas lahan seluas 1600 m2, berlokasi di Jalan Dukuh Kupang VI No. 6, Dukuh Kupang, Surabaya. Dari sudut ekonomi masyarakat di sekitar RSPH adalah golongan masyarakat menengah dan menengah ke bawah. Dari sudut religiusitas, masyarakat tersebut adalah non Kristen, namun terdapat tiga gereja besar di sekitar RSPH, yaitu Gereja Katolik Redemptor Mundi yang letaknya bersebelahan dengan RSPH, Gereja Advent Hari Ketujuh dan Gereja Huria Kristen Batak Prostestan. Juga terdapat dua buah perguruan tinggi swasta, yaitu Universitas Wijaya Kusuma dan Universitas Yos Sudarso. Selain itu, sebuah mesjid terletak berseberang jalan dengan RSPH.

Pada saat penelitian berlangsung RSPH melayani 9 ibu batal aborsi dan 21 bayi serta balita. Para calon ibu tersebut pada umumnya masih usia muda. Para calon ibu tersebut juga beragam kepercayaannya ada yang Islam, Kristen, dan Katolik. Asal sukunya dari suku Jawa, Nias, dll. Kondisi para bayi dalam keadaan yang sehat dan baik Sebagian bayi dan balita ini masih menunggu adanya orang tua asuh yang akan merawat, sebagian dalam proses pengasuhan, dan beberapa bayi akan diasuh orang tuanya sendiri.

Pengerja di RSPH berjumlah 38 orang, terdiri dari bagian administrasi kantor, pengasuh bayi, bidan, konselor, tukang masak, sopir, teknisi, petugas kebersihan dan keamanan, semuanya beragama Kristen. Para pengerja bertugas menurut jadwal yang sudah disusun. Ada pengatur shift kerja, sehingga selama 24 jam ada pengerja yang siap melayani. Para pengerja semuanya beragama Kristen, dengan tujuan agar kasih Kristus direfleksikan secara nyata dalam perbuatan sehari-hari. Oleh karena pelayanan Pondok Hayat tidak hanya mencakup jasmani namun juga rohani dan mental. Terdapat dua orang pengerja yang berpendidikan S2, terdapat enam orang pengerja yang lulusan Sekolah Tinggi Theologia, ada pula yang berasal dari Psikologi, sedangkan yang lain adalah lulusan SD, SMP, SMA. Kalau ditinjau dari kualifikasi pendidikan para pengerja, maka RSPH telah memiliki cukup tenaga yang memiliki kompetensi dalam pelayanan kepada para pasien maupun para bayi.

Para pasien maupun pengerja yang tinggal di RSPH menjalin hubungan layaknya sebuah keluarga besar. Semua penghuni terlibat dalam kegiatan sehari-hari sebagaimana sebuah rumah tangga yang besar berlangsung. Memasak, mencuci, menyeterika, membersihkan kamar dan sebagainya merupakan tugas rutin yang dibagi sesuai dengan porsi masing-masing sesuai dengan kapasitas dan situasi kondisi para penghuni RSPH.

Pelayanan rohani kepada para pasien dilaksanakan melalui persekutuan doa pagi dan malam, pelayanan konseling, ibadah minggu, dll. Persekutuan doa  dilayani secara teratur dengan para pembawa Firman yang telah disusun sedemikian rupa. Para pelayanan di persekutuan doa terdiri dari para pengerja bagian kerohanian maupun para Hamba Tuhan yang menyediakan diri sebagai volunteer dalam kerohanian di RSPH. Setiap hari Minggu seluruh penghuni berbakti di gereja secara berkelompok dan bergilir sesuai gereja asal masing-masing.

Pengecekan kesehatan bagi pasien dilakukan secara teratur oleh seorang dokter ahli kandungan dan bidan sampai tiba saat mereka bersalin atau melahirkan. Kelahiran normal dapat dilakukan di RSPH dengan pertolongan bidan. Untuk kasus-kasus tertentu yang membutuhkan penangan dokter, persalinan dilakukan di Rumah Sakit. Pemeliharaan kesehatan dan vaksinasi untuk bayi-bayi dilakukan secara teratur oleh seorang dokter spesialis anak.

Berikut ini adalah tabel data pasien yang di RSPH sejak tahun berdirinya Yayasan Pondok Hayat.

4. Rumah Anak Pondok Hayat

Rumah Anak Pondok Hayat (selanjutnya disebut RAPH) berlokasi di Jl. Raya Simo Gunung No. 25, Surabaya. Rumah Anak Pondok Hayat adalah tempat pengasuhan bagi anak-anak yang semula dirawat di RSPH. Tempat ini dihuni anak-anak yang telah duduk di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Anak-anak balita yang semula di RSPH bertumbuh semakin besar namun belum memiliki orang tua asuh. Oleh karena itu membutuhkan rumah khusus semacam Panti Asuhan. Saat ini ada 13 orang anak dengan rentang usia antara 6 – 14 tahun. Mereka bersekolah dari Sekolah Dasar kelas 1 sampai dengan Sekolah Menengah Pertama kelas 9. RAPH dikelola layaknya sebuah keluarga besar melalui pola didik kakak menolong adik.

RAPH memiliki fasilitas  yang memadai untuk tempat tinggal anak-anak tersebut. Anak-anak juga mendapat kesempatan bersekolah di sekolah Kristen yang baik, ada pula sebagian yang bersekolah di sekolah nasional plus dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar proses belajar mengajar. Sistem pembelajaran tersebut mendorong anak-anak untuk bisa berbahasa Inggris secar aktif, yang diharapakan dapat bermanfaat bagi masa depannya. RAPH menyediakan fasilitas antar jemput sekolah dan semua keperluan sekolah yang dibutuhkan. Untuk mendorong anak-anak bertumbuh secara menyeleruh, anak-anak ikut dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat masing-masing, yaitu:

  • Bidang olah raga : berenang, futsal dan taekwando
  • Bidang seni        : piano, olah vokal, gitar dan biola
  • Bilang pelajaran : Kursus Kumon yang diikuti semua anak

Pertumbuhan anak-anak perlu dalam pendidikan menjadi bagian penting yang bermanfaat untuk mempersiapkan mereka bisa mandiri di masa depan. Namun RAPH memiliki prioritas  untuk pengembangan kerohanian anak. Oleh karena itu dalam bidang kerohanian, setiap anak didampingin oleh para mentor  dalam kelompok pemuridan. Pemuridan menjadi wadah yang menolong anak-anak untuk mengenal Kristus sejak muda. Pada tahun ini anak-anak yang sudah SMP telah mengikuti kelas baptisan di Gereja Masa Depan Cerah, dan mereka telah menerima sakramen baptisan. Sekarang anak-anak tersebut telah aktif dalam kegiatan kaum muda di gereja.