Latar Belakang

Latar Belakang Pondok HayatAkhir tahun 1997 masyarakat Indonesia digemparkan dengan kasus ditemukannya 12 mayat bayi korban aborsi di Jakarta Utara dan 20 jasad bayi lainnya di dua tempat di Jakarta Pusat. Disusul dengan pengakuan yang menghebohkan dari seorang dokter pelaku aborsi di Surabaya.

Apakah manusia sudah sedemikian merosot akhlaknya hingga dengan sengaja dan sadar membunuh dan membuang darah dagingnya sendiri?

Kenyataan itulah yang membuat sekelompok orang yang perduli mengadakan seminar mengenai aborsi dengan tema “Aborsi, Bagaimana Sikap Kita?” 7 April 1998 di Heritage Club Surabaya.

Seminar yang mengundang orang-orang kunci, para pemimpin, pendidik, yang dialokasikan 300 orang meluap mencapai lebih dari 600 orang. Seminar yang membahas cukup tuntas mengenai masalah seputar aborsi, baik secara medis, psikologis maupun teologis ini mendapat sambutan dan dukungan yang luas dari masyarakat. Permintaan penyuluhan dan pelayanan datang dari berbagai kota, orang-orang dengan permasalahan seputar aborsi minta dilayani.

Sejak awal panitia seminar telah menyadari bahwa ini suatu pekerjaan besar dan akan menjadi suatu gerakan yang akan terus bergulir. Karena itu pembentukan lembaga pro-kehidupan ini tidak bisa ditunda lagi sehingga lahirlah pelayanan pro-life dengan nama PONDOK HAYAT, yang diresmikan bulan Juni 1998.

 

Mengapa ‘PONDOK HAYAT’?

Pelayanan pro-life ini tidak hanya membela hidup janin yang dikandung saja tapi merupakan suatu pelayanan terpadu yang bergerak dalam bidang pembinaan dan pemulihan hidup manusia seutuhnya.

“PONDOK” menggambarkan tempat pengayoman, dimana penghuninya mendapatkan keamanan, perlindungan, penerimaan, kasih, tempat untuk bertumbuh kembang mencapai kedewasaan penuh.

“HAYAT” mempunyai arti hidup, hidup yang dimulai sejak awal keberadaannya sampai pada akhir kesudahannya.

Jadi PONDOK HAYAT mempunyai makna suatu tempat dimana kehidupan dipelihara, diayomi, dibina dan bertumbuh sepenuhnya.